Jumat, 30 Oktober 2015

Sepuluh Tahun Menanti Bintang Jatuh


Kesan pertama memang sulit dilupakan. Yang kedua atau seterusnya, hanya akan mengingatkan kembali terhadap kesan pertama yang tak terkalahkan. Sekadar pembanding tak sebanding. Begitu juga tentang awal kisah kita. Kaulah yang pertama kali menimbulkan kesan ambigu di jiwaku. Sebuah perasaan yang inginnya kuabaikan, tetapi selalu saja terindukan. Layaknya bermain di dunia fantasi, menegangkan tetapi enggan untuk mengakhiri. Kuharap kesan itu abadi.

Dari sepuluh tahun lalu mulanya. Tepatnya ketika kita masih di kelas dua SMA. Saat itu, seusia kita lazimnya bersikap polos dan tak enggan mengumbar perasaannya. Tapi tidak bagimu, Lika, siswi pindahan, wanita pendiam yang selalu membuatku penasaran. Cantikmu tak cukup digambarkan dengan kata-kata. Kau pun hemat berkata-kata. Seakan takut jatah durasi bicaramu habis dan kau jadi bisu. Namun kau perlu tahu, aku lelaki “bermodal” yang tak ada ruginya jual mahal. Tak akanlah aku kalah jutek.

Semua serba menerka-nerka. Entah bagaimana suasana hatimu ketika seisi kelas iseng menjodoh-jodohkan kita. Itu sering terjadi. Tapi palingan kau mendecakkan bibir, menopang kembali dagu, lalu menyorot bacaanmu. Kau tak pernah mengelak dan membela diri secara berlebihan. Sikap biasa seperti itu membuatmu sangat sulit dibaca. Aku pasrah. Biarlah kita diam-diam begini saja. Tak perlu tahu tentang perasaan masing-masing. Selamanya!

Yang paling menjengkelkan, kau tak sedikitpun memberikan penghargaan padaku, lelaki paling tenar di sekolah waktu itu. Seorang vokalis band terkenal yang dengan mudah saja meluluhkan hati wanita jika mau. Hingga puncaknya terjadi ketika sekolah kita menyelenggarakan porseni dan bandku akhirnya menjadi pemenangnya. Kutahu, saat penampilanku di babak final, kau hanya berdiam di kelas dan membaca komikmu yang tak penting.

Akhirnya waktu membawa kita di awal sebuah bencana. Satu momen berkesan yang membuat rasa penasaranku seperti kuis teka-teki silang, terjadi. Waktu itu masih jam pelajaran. Namun lagi-lagi, guru pelajaran tak datang. Alasannya ada rapat. Kuhabiskanlah waktuku di kantin sekolah. Apalagi aku tak sempat mengisi perut saat waktu istirahat. Sehabis makan semangkuk bakso, kuteguk sedikit demi sedikit air minumku sambil memandangi para tukang batu yang mulai membangun gedung-gedung bertingkat di sekeliling gedung sekolah kita. Jadinya, pohon-pohon rindang pun dibabat habis. Tak akan bisa lagi kuperhatikan kau duduk pada bangku di bawah pohon rindang, menyendiri dengan buku-bukumu, tanpa kau sadari.

“Boleh duduk di sini?” sapa suara sendu. Seperti tak asing. Ya, itu suara kau, Lika, si wanita misterius. Aku mendadak kikuk. Seperti tiba-tiba kejatuhan bintang-bintang. Perasaanku seperti gado-gado, campur aduk. Kusilangkan kakiku yang berselonjoran agar tak terlihat gemetaran. Kubalas tanyamu dengan anggukan semasih air di mulutku membusungkan pipi. Aku takut salah berucap dan membuat wibawaku keok.

Kau hanya meluruskan pandanganmu saat kucoba menatap bola matamu. Mungkin kau mencari bangkumu yang telah sirna di depan sana. Aku pun sigap buang muka saat kau berbalik padaku. Kita hanya berbagi pipi. Suasana memang seperti tak mendukung. Pastinya salah besar jika memperbincangkan pembangunan gedung ruko yang melenyapkan perpustakaan privatmu. Kau akan tahu betapa gugupnya aku jika membahas itu, sebab itu perihal yang istimewa tentangmu. Gengsi pun membuat suasana bertahan senyap. Enggan kupertanyakan masalah personal. Akhirnya, berlalu tiga menit tanpa kata. Bunyi krek lemparan kaleng minumanmu ke tempat sampah menjadi penanda perpisahan kita di ruang hampa saat itu. Tak ada perbincangan. Peristiwa itu membuatku menyesal menjadi laki-laki yang dituntut harus memulai lebih dulu.

Kau benar-benar berlalu. Meski sejujurnya aku suka lebih lama dalam suasana tegang seperti itu. Tapi ternyata, kejutan hari itu belum selesai. Kau lupa membawa buku cacatanmu di sampingku. Aku terpaksa berpikir keras lagi, bagaimana menyikapi dampak tulalitmu itu. Tak mungkin aku sekonyong-konyong masuk ke dalam kelas, menghampirimu jauh di sudut belakang ruang, lalu menyerahkan buku itu sambil tersenyum dan banyak cakap. Entah bagaimana riuhnya kelas jika itu kulakukan. Dan yang paling utama: gengsi! Akhirnya kuselipkan bukumu itu dalam bajuku, kumasuki kelas, lalu kususupkan dalam tasku. Aku berniat membawanya untuk sehari saja. Pasti akan kukembali juga kepadamu. Tentu dengan cara yang tidak merendahkan harga diriku, ataupun kau.

Di masa penyanderaan buku risalahmu itu, rasa penasaran membuatku begitu bernafsu mengorek isinya secara teliti. Apakah yang selama ini kau tulis kala semua teman sekelas kita bertebaran saat jam istirahat, sedang kau hanya mencoret-coret bukumu? Langsung saja kusorot lembar demi lembar tulisanmu di kamar sunyiku saat malam telah larut. Berharap ada rahasia pribadimu yang kutahu sebelum terlelap, sehingga wajar kuyakini bahwa sia-sia saja kau bersikap sok jaim padaku. Ya, tentang bagaimana perasaanmu. Betapa bersyukurnya aku. Terkejut juga, ternyata itu adalah buku diary-mu. Suasananya semakin menegangkan. Rahasiamu mulai terkuak. Tapi yang terpenting adalah goresanmu di lembaran terakhir.

“Sejak aku pindah ke sekolah baruku ini, aku merasa akan biasa saja seperti sekolah lamaku dulu. Membosankan. Tapi ternyata suasananya berbeda kali ini. Lebih menyenangkan tentunya. Apalagi sekitar tiga bulan yang lalu, kutemukan sosok yang selama ini memaksa untuk kumimpikan. Ya, lelaki yang humoris dan akrab dengan semua teman sekelasku. Tapi kecuali terhadapku. Entah kenapa.

Dia terlihat rendah hati dan tak sok. Kuakui, dia orang yang menarik dan cerdas. Ia juga piawai bermusik dan melukis. Bermodal besar untuk meluluhkan hati wanita labil yang ia inginkan. Tapi selama ini, aku tak pernah melihatnya dekat lebih dari teman dengan seorang wanita pun. Di akun media sosialnya, aku juga tak pernah melihat ia bergenit-genitan dengan lawan jenisnya. Mudah-mudahan saja ia tak kelainan.

Terus terang aku segan padanya. Apalagi karena teman sekelasku sering menyoraki nama kami berdua, sedang ia tak ada respons berarti. Mustahil aku memulai. Tapi melenyapakan kekaguman ini juga sepertinya tak akan. Mungkin karena harapan berlebih-lebihan yang kupendam dan menumpuk-numpuk. Kendala terbesarnya adalah aku tak percaya diri. Kusadari, dari banyak wanita yang menginginkannya, mungkin aku menjadi yang paling tak berharga jika dilakukan penjurian. Dia layak disebut artis top. Sedangkan aku hanyalah penggemar rahasia. Tapi biarlah. Akan tetap kujaga harapan ini, sampai benar-benar diruntuhkan olehnya dan aku diharamkan berharap. Ya, ketika ia mengikrarkan pilihannya pada hati yang lain.”

Kau tak menulis kata Abam, namaku. Tapi berdasarkan ciri-ciri yang kau tuliskan, sepertinya tak menyesatkan jika aku merasa pantas memimpikanmu. Kesimpulannya: kita saling mengidamkan secara diam-diam.

Keesokan harinya, kuserahkan buku itu pada teman sebangkumu, Lia. Kumohon padanya untuk menyerahkan buku itu padamu tanpa mengatakan akulah yang menemukannya. Kuminta padanya untuk mengatakan pegawai pembersih sekolahlah yang menemukannya.

***

Kita tetap saling menyimpan rasa yang sama hingga empat tahun kemudian berjalan. Tak terasa. Kini kita telah menjadi mahasiswa dan duduk di semester IV. Lagi-lagi, kita satu fakultas di sebuah kampus. Entah minat kita memang sama atau kau sengaja membututiku. Jika aku punya keberanian berbicara padamu, akan kutegaskan bahwa sudah seharusnya engkau menganggap tentang perasaan kita di bangku sekolah hanyalah wujud jiwa labil anak muda. Kita telah dewasa dan tak seharusnya menggingat-ingat cerita cengeng itu lagi. Masa depan kita lebih penting. Tapi sudahlah, aku saja tak bisa melupakan kesan pertama itu. Bagaimana denganmu yang kutahu pasti perasaanmu dahulu?

Sepertinya pertempuran batin kita tak akan berkesudahan. Masih sama-sama pura-pura lupa pernah sekelas di sekolah dulu. Tak bisa mencair. Bisanya kita saling melirik, atau paling banternya saling lemparan senyuman saat terpaksa berpapasan. Bernostalgia tentang masa lalu di kelas sepertinya tak mungkin. Kenangan apa yang akan diulas kembali? Tapi syukurlah, waktu-waktu tak memenjarakan kita dalam satu ruang yang sama, seperti di sekolah dahulu. Pergaulan kita berbeda. Aku dengan sesama pecandu seni, sedangkan kau masih gemar berkutat dengan huruf-huruf.

Kurasa hitungan empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengabaikan kemungkinan ketertarikan terhadap lawan jenis. Kurasa kau setuju denganku. Terus terang, karena kodratku sebagai lelaki, sering juga wajah manis lukisan Tuhan membuatku tertarik. Tapi tak pernah sekalipun terucap. Juga lekas hilang dan berganti-ganti untuk waktu yang singkat. Mungkin itu tepatnya disebut suka.

Aku masih yakin cintaku telah terikat olehmu bertahun-tahun yang lalu. Perhatianku terperangkap di kesan pertama itu. Tentang rangkaian huruf yang membuatku merasa beralasan merindukan masa depan bersamamu. Seperti yang pernah kutuliskan di tepi lukisanku pada selembar kertas yang hilang: “Bertahanlah hingga waktunya ia  menyatakan cinta sejati itu.” Entah bagaimana denganmu. Yang kutahu, kau juga tak pernah akrab dengan lelaki secara mencurigakan. Kecuali dengan teman-temanmu yang agak keibu-ibuan.

Waktu seperti merangkak, hingga datanglah hari di mana bayang-bayang masa lalu kita seperti hidup kembali. Seusai organisasiku mengadakan pameran lukisan, coba kubaca satu per satu lembaran berisi komentar dari para mengunjung. Kurasa, bertahun-tahun berimajinasi dengan tinta dan kanvas, lukisanku pasti mendapatkan banyak sanjungan. Setelah menyela-nyela sejumlah komentar pendek, aku menjadi tertarik pada sebuah komentar yang lumayan panjang. Kuingat lagi bentuk tulisan di diary empat tahun lalu. Ya, milikmu! Semoga aku tak salah menduga.

“Aku tahu kau berbakat melukis sejak empat tahun yang lalu. Teruslah berkarya. Semoga beberapa tahun ke depan semua menjadi nyata, bukan lagi sekadar imajinasi.”

Sudah bukan salahku lagi jika menduga-duga sang penulis adalah kau. Tapi aku masih tak mengerti makna kalimat terakhir yang kau tuliskan.

Dua tahun selanjutnya, tepat menjelang hari wisuda kita yang bertepatan lagi, kau membuatku berpikir untuk membakar lembar-lembar kenangan. Tepat di depanku, kau berlagak sangat romantis dengan seorang lelaki saat berjalan di trotoar gedung rektorat kampus. Begitu dekat. Seketika itu, tampakanmu yang cuek kuanggap sebagai muslihat belaka. Dasar munafik!

Tepat di hari wisuda setelahnya, aku tak ingin mencarimu lagi. Walaupun kutahu mungkin itu adalah perjumpaan kita terakhir kalinya. Malam ramah tamah juga kulewatkan. Padahal sebelumnya telah kurancang untuk membuat kesan terakhir di malam itu bersamamu.

Hari-hari selanjutnya adalah waktu untuk menghapus jejakmu. Tapi sial! Melupakanmu dengan keterpaksaan, sama saja dengan mengingat, namun dengan rasa benci. Begitu meresahkan. Mungkin sebaiknya kusahabati saja kenangan yang mustahil terlupakan. Tak ada gunanya terus-terusan membenci. Sepertinya, hanya dengan mendapatkan sosok pengganti yang akan mengukir lembaran baru di memoriku, tulisan tentangmu akan memudar. Walau kutahu, lembaran yang terukir sejak enam tahun mengenalmu, tidaklah sedikit.

Setahun berselang setelah kucoba melupakanmu, aku tak juga mampu melupakan tentang kesan pertama. Hingga kudapat keterangan yang membuatku harus mengingat-ingat kembali lembaran-lembaran yang mulai buram dengan kesibukanku sebagai pekerja di sebuah perusahaan pers. Ya, aku kini menjadi kartunis untuk sebuah koran harian. Aku baru pindah kerja. Di perusahaan itu pula, aku bertemu dan akrab dengan redakturku yang menangani rubrik opini. Aku belum lupa wajah lelaki yang kudoakan mati itu.

“Hai Abam, namaku Agi, redakturmu di sini,” sapanya sok akrab sambil menjulurkan tangannya.
Terpaksa, sebagai pekerja baru, aku harus berlaku seperti anak manis. Kulemparkan senyuman terpaksa padanya, lalu menjabat tangannya yang mencengkeram kuat.

“Kamu lulusan dari mana?” serangnya lagi.

“Aku lulusan Fakultas Sastra Universitas Bandar, angkatan 2011,” balasku tanpa bertanya ulang. Aku ingin percakapan tak penting untuk waktu kali ini cepat berakhir.

“Oh, berarti kamu kenal dengan adikku, Ralika Sezaria  Munaf?” balasnya sambil menepuk punggungku.

Ternyata? Otot-otot wajahku meregang seketika. Aku mulai bisa bertingkah biasa dengan emosi yang perlahan normal. “Iya, aku kenal. Dia tak pernah menceritakan kalau dia punya kakak yang tampan. Mungkin karena kami memang tak terlalu akrab,” candaku. “Ngomong-ngomong, Lika sekarang di mana?”

“Dia sekarang di Australia. Sedang menempuh studi lanjutan. Mungkin tak lebih dari dua tahun lagi dia akan kembali ke Indonesia,” jawabnya.

Ternyata selama ini aku salah sangka. Aku masih pantas berharap sehidup denganmu.

***

Sekitar dua tahun setelah kudapat penjelasan bahwa lelaki itu hanyalah kakakmu, tepatnya hari ini, adalah tiga hari setelah kunyatakan cintaku. Setelah 10 tahun yang lalu kesan pertama itu tercipta, kini kita telah disatukan dengan cinta yang sebenarnya, dalam ikatan pernikahan. Saat ini kita sedang berayun, di beranda lantai dua rumah baru kita yang sederhana. Kau tepat di sampingku. Kita saling menarik dan menggoyangkan ayunan untuk menabrak-nabrak angin. Berbaring menatap bulan dan ribuan bintang di langit cerah. Sesekali bangkit dan memandang bebukitan di seberang. Di bawah langit, kita saling bergenggaman. Indahnya waktu. Datang rasaku ingin bernostalgia, tentang bagaimana rasa suka kita bisa bertahan lama hingga berujung pada cinta sejati.

“Kau ingat masa lalu kita? Sebelum kau menghampiriku di kantin sekolah, lama sebelumnya kau pasti sudah mengidamkan aku kan? Kau hebat juga, bisa memendam perasaanmu hingga sepuluh tahun lamanya. Kenapa kau tak mengaku saja sejak kita masih sekelas? Sok jual mahal!” pancingku, sembari tertawa meledek.

Kau sontak meninju lenganku. Mengempiskan pipimu yang dari tadi dikembung-kembungkan. “Enak saja. Kaulah yang seharusnya mengaku duluan. Lagian, kau juga yang lebih dulu suka padaku,” sangkalmu, lalu mengalihkan pandangan ke arah bulan.

“Tuduhan tak berdasar. Jelas saja kau suka padaku lebih dulu. Apa kau mau mengatakan kalau bahasa polos yang kau tulis di diary-mu bukan kejujuran. Kau kira aku tak tahu? Akui saja!” balasku seperti mengejek, sambil tertawa panjang.

Kau sontak menarik tanganmu yang kugenggam. Mengangkatnya ke atas sambil terkepal. Menggoyang-goyangkannya, seperti tanda kemenangan. “Ternyata kau mudah tertipu. Saat itu, aku sengaja meninggalkan diary-ku di sampingmu. Aku yakin rasa penasaran akan membuatmu membawanya, mengutak-atiknya, lalu mencari ungkapanku seperti yang kau damba-dambakan. Kau kira aku tak tahu kalau kau yang membawanya. Lia, teman akrabku itu yang mengatakannya padaku. Dasar!”

Aku merasa terperangkap, tapi aku tak mau mengalah. Kau menjebak dirimu sendiri. Berarti kamu yang suka duluan sama aku. Buktinya, kau menuliskan perasaanmu di diary tanpa pernah kau tahu aku suka padamu atau tidak?” sanggahku. Aku tak akan kehabisan argumentasi!

Aneh, kau hanya berdecak-decak sambil menggeleng-gelengkan kepalamu. Seperti tembakanku meleset saja. Padahal kurasa kau bak tertangkap basah. Sambil menyun-manyun, kau berceloteh lagi, “Lagi-lagi kau mengakui kelemahanmu. Mengaku kalah saja! Kau kira aku tak tahu kau pernah melukis wajahku di selembar kertas disertai tulisan lebay-mu: ‘Untuk wajah sejuta bintang di balik mendung, jangan merasa sendiri di pojok ruangan. Ada seseorang yang berharap kau jatuh di pelukannya. Tunggulah 10 tahun ke depan, ketika roketnya telah siap menembus awan, biarkan ia menghampiri dan memasangkan cincin di jari manismu. Bertahanlah hingga waktunya ia  menyatakan cinta sejati itu.’ Dio, teman sebangkumu yang mencurinya di laci mejamu dan memberikannya kepadaku melalui Lia. Karena itu juga, teman sekelas menjodoh-jodohkan kita. Ayolah, minta ampun saja. Aku tak akan menganggap itu aibmu,” balasmu dengan mimik yang sangat meremehkan.

Aku seperti kehabisan peluru. Memang sulit untuk mengakui kekalahan. “Baiklah, aku mengaku kalah untuk sementara waktu. Walaupun sulit saja untuk membuktikan bahwa kau yang lebih dulu memendam perasaan padaku. Apa aku harus bersujud?”

Kau nampak kegirangan. Jika begitu, aku tak rugi mengaku kalah. Baru kali ini kulihat senyummu yang paling manis. Sangat tulus. “Tapi kenapa juga kau tak pernah mencari sosok penghibur selama 10 tahun berjalan. Atau memang tak ada yang sudi mendampingimu?” tanyamu.

“Entahlah, aku yakin saja bahwa kaulah jodohku. Kau seperti tercipta untuk kurindukan menjadi pasangan hidupku. Aku juga tak ingin mengotori memoriku. Jika bukan tentang kau, kubiarkan saja kekosongan melandaku di antara waktu-waktu penantian selama sepuluh tahun itu. Aku tak ingin dalam kenanganku, kau punya pembanding yang akan membuatku lebih cinta kepada kenangan daripada kau, walaupun kita akhirnya tetap menikah. Ada bagian memoriku yang merekam tentang lawan jenis, dan kupikir sebaiknya terisi satu wajah saja. Itu kamu, nona manis!” jujurku, lalu memetik dagumu.

“Dasar gombal! Terus, apa kamu tak terluka saat kugandeng tangan kakakku di pelataran rektorat kampus, sehari sebelum wisuda? Padahal aku tahu kau di belakangku waktu itu,” tanyamu lagi. Seperti masih berhasrat menyerang.

“Apa? Kamu memang keterlaluan. Hampir saja gara-gara itu aku tak jadi menikahimu. Kurang ajar!” balasku polos. Sudah terlanjur juga aku kalah. “Kau sendiri kenapa bisa bertahan selama itu?”

Kau terdiam untuk beberapa detik. Sepertinya kau sudah kelelahan melampiaskan tawamu. Aku berbalik ke samping menatapmu. Wajahmu terlihat tenang, terbasuh sinar rembulan. “Aku sama sepertimu. Kau telah mengikat hatiku waktu itu. Kurasa kaulah cintaku sesungguhnya. Selalu kudambakan kita terlahir untuk dipasangkan bersama. Aku pegang waktu 10 tahun yang kau janjikan. Selama kau tak memulai untuk berpaling ke lain hati, aku tak akan melakukannya juga. Terus terang, sebelum aku ke Australia, aku telah relakan kalau kau ingin menambatkan hatimu ke yang lain. Kurasa dua tahun tanpa saling berbagi kabar adalah waktu yang sangat membunuh. Tapi nyatanya, kau masih juga mejaga perasaanmu seperti pertama kali aku tahu. Terima kasih telah menjaga hatimu untuku,” balasmu, seperti berat kau untuk mengungkapkannya. Terdengar terbata-bata. Seperti mendung di pelupuk matamu.

Jiwaku bergetar. Kuharap kau merasakannya. Tiba-tiba aku seperti jatuh cinta kembali. Lebih dari saat kesan pertama itu bermula. Kugenggan tanganmu yang dingin. Kutarik. Tanda pintaku agar kau bangun dari baringmu. Dan semuanya terjadi lagi. Kita saat ini tengah berhadapan di atas dua ayunan tali yang terpisah jarak semeter. Jika hanya pipimu yang kutatap 10 tahun lalu di kantin, kini aku bisa menatap jelas wajah manismu seluruhnya.

“Lika, maukah kau jadi pacarku?” kataku.

Kau hanya tertunduk. Mengusapkan kedua telapak tanganmu di mata. Kau terisak sambil tersenyum, lalu terjatuh di bahuku. Kini benar, kaulah bintang yang dulu kuharap jatuh di pelukanku. Ada kata yang terbenam harumu. Kupastikan itu adalah jawaban yang membuatku menjadi lelaki paling beruntung di dunia. Teruslah menangis nona manis.

Membunuh Bibit Koruptor

Dewasa ini, masalah bangsa bersifat multidimensi dan kompleks. Namun jika berangkat dari keresahan masyarat, sepertinya tak ada yang menyangkal jika korupsi dicap sebagai akar dari karut-marutnya negeri ini. Terlebih, seiring berjalannya waktu, semakin banyak saja kasus korupsi yang terbongkar. Keadaan itu tentu membuat hati rakyat semakin kesal. Tapi apakah fenomena itu pertanda bahwa pemberantasan korupsi berjalan dengan baik, ataukah bukti bahwa korupsi semakin marak saja? 

Tak sulit menjawabnya. Kita hanya perlu mengamati apakah tindak pidana korupsi yang selama ini ditangani pihak penegak hukum terjadi di masa lampau atau malah peristiwa hukum kekinian setelah terbentuknya KPK pada tanggal 29 Desember 2003. Faktanya, korupsi terjadi lintas zaman pemerintahan, entah sampai kapan. Yang masih hangat-hangatnya, anggota DPR Dewi Yasin Limpo bersama beberapa koleganya tertangkap tangan oleh KPK saat sedang menerima suap untuk pembangkit listrik mikrohidro di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua. Ini berarti bahwa lahirnya KPK sebagai perwujudan tuntutan Reformasi untuk memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), memiliki peran penting dalam pemberantasan korupsi. 

Berkaca dari kenyataan di atas, maka segala upaya untuk melemahkan KPK, termasuk revisi UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, harus dilawan. Apalagi salah satu poin revisinya adalah menghilangkan kewenangan penyadapan oleh KPK. Padahal selama ini, penyadapan adalah instrumen handal dalam keberhasilan operasi tangkap tangan. Kita punya KPK dalam penindakan kasus korupsi, dan harus kita dukung. Tapi apa kabar dengan upaya pencegahan korupsi? Itulah yang menurut Penulis perlu diutamakan. 

Mencari rumus baku untuk pencegahan korupsi tidaklah mudah. Semua perspektif disiplin ilmu bisa ditawarkan sebagai solusi. Upaya pencegahan untuk meminimalisir tindak korupsi perlu dilakukan. Apalagi selama kekuasaan masih ada ---yang memberikan hak kepada seseorang untuk mengendalikan hak-hak masyarakat---, maka korupsi masih berpotensi untuk terjadi. Kesimpulan itu bisa dibawa pada lingkup yang lebih besar, bahwa selama masih ada negara beserta kekuasaan yang diatur dalam konstitusi, akan tetap ada potensi korupsi oleh penyelenggara pemerintahan.

Mustahil menghapuskan tindak korupsi. Hal itu sejalan dengan kodrat manusia yang selain memiliki aspek kehidupan yang individual, juga sosial. Individu manusia membutuhkan struktur kekuasaan pemerintahan untuk menjalankan fungsi-sungsi sosial. Untuk itu, kekuasaan yang melahirkan korupsi selamanya ada, sebagaimana disimpulkan Lord Acton. Masalahnya sekarang adalah bagaimana menjaga agar kekuasaan sebagai kebutuhan tidak dibajak oleh orang-orang yang punya “nafsu materiil” berlebihan, yang akan melahirkan koruptor?

Penulis berkesimpulan bahwa salah satu solusi jitu untuk menjawab persoalan di atas adalah memperbaiki proses rekrutmen, terutama mencegah tindakan kolusi dan nepotisme. Dalam artian, KKN harus diberantas secara menyeluruh, tidak hanya berkutat pada aspek korupsi. Terlebih, korupsi lahir dari tindak kolusi dan nepotisme. Secara lugas, kolusi berarti permufakatan jahat yang melibatkan penyelenggara negara. Sedangkan nepotisme adalah tindakan pilih kasih atas dasar kekeluargaan atau kekerabatan. Dua penyakit inilah yang marak di tataran pemegang kekuasaan saat ini, terutama dalam perekrutan penyelenggara negara. 

Tak mengherankan jika dijumpai adanya seseorang yang tak punya kompetensi dan integritas malah menduduki jabatan dalam pemerintahan. Dibuktikan dengan banyaknya pejabat yang memiliki kinerja buruk atau mengakhiri masa jabatanya di balik jeruji besi. Apa mau dikata, mereka memegang kunci; punya keluarga ataupun kerabat yang memiliki pengaruh dalam proses perekrutan. Lama kelamaan, perilaku curang ini akan berujung pada terbentuknya pemerintahan yang dikedalikan oleh oligarki tak terkontrol. 

Akhirnya teringat lagi perkataan Budayawan Alwy Rachman pada acara diskusi yang diselenggarakan Lembaga Kajian Mahasiswa Pidana (LKMP) Unhas, Selasa, 6 Oktober 2015 di Fakultas Hukum Unhas. Kesimpulan yang penulis tangkap, ia mengatakan bahwa budaya Indonesia turut memberikan pengaruh negatif terhadap pemberantasan korupsi. Menurutnya, budaya Indonesia melahirkan masyarakat komunal yang gemar bergotong royong atau berkerja sama. Terciptanya solidaritas kelompok di masyarakat Indonesia pun tak bisa terelakkan. Namun masalahnya, kebersamaan tersebut tetap terjaga, bahkan dalam tindakan buruk seperti korupsi. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada masyarakat komunal, individu di dalamnya akan punya keberanian lebih untuk berbuat salah dan sulit merasa takut dan malu, termasuk dalam melakukan tindak korupsi. Di sisi lain, di peradaban masyarakat yang individualis, seperti di dunia Barat, orang-orang memiliki ketakutan atau keengganan lebih untuk melakukan tindakan buruk, serta lekas timbul rasa malunya kala berbuat salah.  Hal itu bisa terjadi karena orang yang melakukan kesalahan secara individual di peradaban individualis, sadar tak punya penyokong, sehingga takut merasa sendiri dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akhirnya, Alwi mempungkaskan bahwa: “Jika kebudayaan kita tak mampu mendidik masyarakat, biarkan peradaban yang mendidik kebudayaan.”

Pertanyaannya kemudian, bagaimana memberantas perilaku kolusi dan nepotisme yang biadab? Selama ini KPK dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antikorupsi memang gencar dalam memantau dan mengkritisi proses perekrutan penyelenggara negara ataupun pegawai negeri. Namun kerena proses akhir rekrutmen biasanya berhubungan dengan kebijakan (freies ermessen), maka saran, kritikan, serta rekomendasi KPK dan LSM sering kali terabaikan. 

Dalam melakukan upaya perbaikan, tak ada jalan lain selain memberikan jaminan bahwa pihak yang menyeleksi dan proses seleksi penyelenggara negara dapat berjalan independen. Rencana perbaikan tersebut harus dilakukan di semua instansi pemerintahan dan harus didukung dengan regulasi. Untuk itu, perlu dilakukan kajian mendalam serta penghapusan celah-celah yang memungkinkan orang yang tak berkompeten dan tak berintegritas bersama-sama membajak jabatan pemerintahan.

Rabu, 28 Oktober 2015

Sisi Kelam Pemuda


Sepanjang kehidupan manusia, merefleksikan kehidupan merupakan tindakan yang senantiasa dilakukan. Terlebih manusia tak luput dari salah dan lupa. Sudah menjadi kebutuhan jiwa untuk menimbang-nimbang antara keburukan dan kebaikan yang kita lakukan selama hidup. Dengan itu, diharapkan timbul kesadaran dibarengi tindakan nyata untuk berbenah di sisa hidup yang terahasiakan.
 
Di momen Hari Sumpah Pemuda ini, merefleksikan keadaan dan peran pemuda juga perlu dilakukan. Apalagi masalah terkait pemuda masih banyak dan beragam. Banyak cara bisa dilakukan. Semisal lewat unjuk rasa, menulis, ataupun sekadar membatin. Disemogakan, pemuda kembali berperan melakukan pembaruan ke arah yang lebih baik. 

Penting melakukan tindakan refleksi, walaupun tak jarang penilaian miring menerpa. Menganggap bahwa peringatan tanggal-tanggal penting hanyalah kegiatan seremonial. Seperti ketika memperingati hari ulang tahun, hari raya keagamaan, dan hari peringatan momen nasional maupun intenasional. Termasuk juga Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini (Rabu, 28 Oktober 2015), sejak dicetuskan pada Kongres Pemuda Indonesia II di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Alasannya karena implikasi refleksi sifatnya sangat personal. Terbersitnya makna setiap momen peringatan di setiap jiwa, sangat tergantung dari kelapangan setiap individu untuk mengakui kekhilafan, lalu mengambil pelajaran darinya. Jadi, biarkanlah setiap individu mengakui dosanya, lalu mengokohkan kembali cita-cita dengan caranya sendiri. 

Disadari atau tidak, setiap peringatan peristiwa memberikan pengaruh signifikan terhadap keadaan jiwa setiap individu. Namun setelah kegiatan seremonial berakhir, hingga sampai pada hari pengulangannya lagi, semangat tersebut susut sedikit semi sedikit. Untuk itu, perlu diupayakan agar suasana kejiwaan tersebut tetap terpelihara baik. Solusinya adalah melakukan refleksi setiap saat. Tidak hanya pada hari-H.

Di momen Hari Sumpah Pemuda ini, ada beberapa masalah terkait keadaan pemuda yang menurut Penulis perlu direfleksikan untuk dibenahi. Hal itu penting sebab jika diakui bahwa pemuda berperan penting bagi kemajuan bangsa dan negara, maka tindakan untuk pembentukan dan perbaikan pribadi pemuda perlu segera dilakukan. Percuma berharap kontribusi lebih dari pemuda jika kualitas dan solidaritasnya saja masih dipertanyakan. Untuk itu, perlu mencari akar masalahnya, merumuskan solusi, lalu melakukan pembenahan. 

Berangkat dari realitas kepemudaan, dengan analisis subjektif, Penulis mencoba menguraikan masalah dan menawarkan solusi. Tulisan ini mencoba menggambarkan bahwa masalah kepemudaan tidak lepas dari faktor lingkungan, terutama andil para pengambil kebijakan. Tujuannya untuk menekankan bahwa semua komponen punya peranan dalam perkembangan diri para pemuda. Meski begitu, kesadaran diri pemuda tentulah juga sangat menentukan.

Sebagai acuan, jika merujuk pada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, usia pemuda adalah 16-30 tahun. Untuk itu, tulisan ini mencakup masalah kepemudaan di lingkungan masyarakat maupun kampus, yang tentunya masih tergolong dalam kategori umur pemuda tersebut. 

Berikut ini beberapa segi masalah mental dan kepribadian pemuda Indonesia yang menurut Penulis penting untuk dicermati:

Sentimen dan Arogansi

Pemuda dewasa ini masih sering menampakkan perilaku dan tindakan anarkistis yang tidak perlu. Misalnya saja bentrokan antarpemuda, tawuran antarmahasiswa, hingga pertikaian antarkelompok. Seperti sudah menjadi tradisi, setiap kubu pro-kontra tidak akan merasa afdal jika tindakan kekanak-kanakan tersebut tidak diperingati pada waktu-waktu tertentu.

Masalahnya di mana? Akarnya bisa jadi arogansi. Adanya sikap saling memandang rendah dan tidak saling menghormati. Tawuran antarmahasiswa misalnya. Jika kita lihat sejarahnya di setiap kampus, hampir bisa dipastikan bahwa pihak mahasiswa yang terlibat tawuran dari fakultas yang berbeda, telah dicap sebagai musuh bebuyutan yang gemar saling merendahkan.

Ironisnya, arogansi tersebut muncul atas kecongkakan mahasiswa yang menganggap disiplin ilmunya paling hebat. Entah sekolot apa pikiran demikian, hingga tak pernah berpikir bahwa perbedaan disiplin ilmu seharusnya menjadi alasan saling membutuhkan. Terutama karena kita mengetahui bahwa masalah kemasyarakatan dan kebangsaan bersifat multidimensi, yang butuh saran solusi dari berbagai disiplin ilmu. 

Sikap sentimen dan arogan bukanlah penyakit yang mendarah daging. Ia bisa terurai seiring tumbuhnya sikap saling memahami dan menghargai. Maka solusinya adalah komunikasi. Tindakan anarkistis yang terjadi selama ini hanyalah buah dari matinya budaya berkomunikasi. Baik di lembaga kemasyarakatan maupun kampus, upaya untuk membaurkan para pemuda hampir tidak pernah terjadi dari inisiatif birokrat (kalau tidak mau dikatakan mereka tak pernah berpikir ke sana).

Di sisi lain, diskusi-diskusi di lingkungan kampus seringkali hanya menjadi territorial mahasiswa dari disiplin ilmu tertentu. Akhirnya, masalah yang seharusnya dikaji secara komprehensif akhirnya tidak menghasilkan solusi yang jitu. Diskusi masalah pengelolaan minyak dan gas nasional misalnya, akan berujung pada kesimpulan dan solusi yang “ompong” jika tidak dikaji dari berbagai disiplin ilmu terkait. Misalnya ilmu hukum, teknik pertambangan, ekonomi, dll. Tapi apa mau dikata, sepertinya mahasiswa masih gengsi mengakui bahwa mereka saling membutuhkan karena perbedaan disiplin ilmu.

Keadaan yang sama terjadin dalam lingkup kemasyarakatan. Dialog demokratis antarorganisasi kemasyarakatan yang berbeda paham jarang diadakan di forum-forum intelektual, bahkan berupaya dihindari. Imbasnya, komunikasi yang tersendat akan menumpuk sikap sentiman dan arogan, hingga suatu saat akan terwujud dalam bentuk tindakan anarkistis. 

Parahnya, birokrat di pemerintahan maupun di lingkungan kampus turut berpikir kekanak-kanakan. Mereka pun terkungkung dalam pola pikir hitam-putih, yang berujung pada sikap saling merendahkan dan menyalahkan. Di kampus misalnya, doktrin yang membakar mental arogan antarmahasiswa tidak hanya berasal dari para “senior”, tetapi seringkali berasal dari para dosen. 

Secara terkhusus, Penulis sendiri, sejak menjadi mahasiswa seringkali mendengarkan ucapan para senior bahkan dosen yang menyatakan bahwa mahasiswa ilmu hukum itu paling hebat, sehingga tak boleh kalah dengan mahasiswa lain. Bahkan diikuti kata-kata merendahkan disiplin ilmu lain. Perkiraan Penulis, keadaan ini juga terjadi pada institusi disiplin ilmu lain. Lalu apa yang terbentuk pada kejiwaan setiap mahasiswa jikalau begitu? Sentimen dan arogansi!

Jika meneliti di kampus Penulis sendiri, salah satu solusi jitu namun  luput dari perhatian, adalah format pengajaran Mata Kuliah Umum (MKU). Seharusnya perkuliahan MKU tak memenjarakan mahasiswa, tetapi menjadi momen pembauran. Kenyataannya, mahasiswa dipisahkan oleh ruang kelas pada satu gedung besar berdasarkan perbedaan disiplin ilmu. Menurut Penulis, sebaiknya dan tidak ada salahnya jika beberapa mahasiswa dari beberapa fakultas dibaurkan dalam satu kelas, sebab mata kuliahnya bersifat umum. Apalagi jika belajar dari sejarah, pertemuan mahasiswa beda fakultas di gedung yang sama, dengan sikap sentimen dan arogan di benak masing-masing, sangat rentan memicu tawuran. 

Sudah waktunya keadaan direfleksikan secara bersama-sama. Mahasiswa, terutama birokrat pemerintahan dan institusi pendidikan tinggi harus mengambil langkah jitu dalam upaya membaurkan para pemuda. Namun selama di antara para pengambil kebijakan (birokrat) juga masih terjadi perpecahan dan tak ada saling pengertian, tak ada gunanya menggantungkan harapan pada mereka.

Salah Mengaktualisasikan Diri

Keinginan untuk tampil dan diakui adalah hal yang sangat manusiawi. Setiap manusia akan melakukan tindakan agar predikat “ter….” Dilekatkan padanya. Tapi fenomena kekinian menunjukkan bahwa ada yang salah dengan cara pemuda mengaktualisasikan dirinya. Terbatasnya ruang untuk mengaktualisasikan diri dan keinginan mendapatkan penghargaan diri secara instan, menjadi dorongan menempuh “jalan kompas”, meskipun salah dan menyesatan.

Doktrin bahwa masa muda adalah waktu untuk berbuat sebebas-bebasnya (kalau enggan mengatakan senakal-nakalnya) sebelum masa tua datang dan senantiasa mengingatkan dekatnya kematian, masih menjadi pegangan hidup sejumlah pemuda. Hal itu menambah kompleksitas penyelesaian masalah. Terlebih, di usianya, pemuda gandrung akan pujian dan pengakuan. Keadaan semakin parah jika tak ada pengarahan dari pihak pendidik, terutama orang tua dan guru/dosen.

Fenomena aktualisasi diri yang salah ini dapat kita lihat pada maraknya tindakan begal di lingkungan masyarakat dengan melibatkan para pemuda. Tindakan nekat itu kemungkinan besar timbul karena para pelaku merasa tak lagi mendapatkan pengakuan diri, selain dari komunitas begalnya. Di lingkungan kampus, kita dapat melihat dalam bentuk pergaulan bebas, tawuran, hingga perusakan fasilitas umum.

Jika dicermati, tindakan yang bobrok para pemuda tidak lepas dari ketidakpengertiannya para birokrat pemerintah dan kampus pada perkembangan para pemuda. Di lingkungan masyarakat, kini ruang terbuka hijau semakin minim. Selain itu, dukungan terhadap kegiatan kepemudaan terutama terkait seni dan olahraga juga minim. Semarak kegiatan kepemudaan biasanya hanya terlihat di momen peringatan hari-hari besar keagamaan dan nasional, ataukah saat pengejar kekuasaan menginginkan ruang untuk mempromosikan dirinya (kampanye politik). Di hari selain itu, para pemuda dibebaskan mencari ruang aktualisasinya sendiri.

Di lingkungan kampus, terjadi pengekangan terhadap kebebasan aktivitas keorganisasian, minimnya penghargaan pada pendapat dan kreativitas mahasiswa, hingga metode perkuliahan yang bersifat doktrinisasi, terkesan masih dilembagakan. Kampus saat ini belum menjadi lingkungan melahirkan para penghasil ide. Mahasiswa terkesan dipaksa memiliki pola pikir menurut keinginan para birokrat kampus, demi kebutuhan pasar tenaga kerja. Akibatnya, kehidupan sebagai mahasiswa dengan rutinitas yang padat, terasa begitu “kering” dan sangat membosankan. Kesimpulannya, kampus belum berhasil mencetak mahasiswa menjadi manusia seutuhnya: yang kritis dan kaya akan gagasan. Imbasnya, mahasiswa pun melampiaskan gelora semangat dan  “kreativitas” dirinya pada hal-hal yang negatif.

Penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya disandarkan pada kesadaran pribadi pemuda. Ketepatan cara mengaktualisasikan diri juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan para birokrat. Membuka lebar ruang aktualisasi diri bagi para pemuda merupakan upaya yang penting segera dilakukan.  Namun, selama para birokrat masih haus sanjungan dan pengakuan diri, serta sibuk dengan pencitraan, sia-sia mengharapkan perhatian dari mereka. 
 
Tidak Punya Visi dan Pendirian

Adanya visi dan pendirian sangat menentukan integritas seseorang. Capaian hidup berdasarkan visi, dan dalam menggapainya tetap berpegangan pada idealisme. Tapi di zaman yang serba anomali seperti sekarang, orang sering kali bersikap pragmatis demi kepentingan pribadinya. Keadaan serupa juga menjangkiti sebagian pemuda masa kini. Visinya bersifat temporer dan mudah diruntuhkan oleh rintangan. Selain itu, keteguhan untuk menempuh “jalan lurus” juga mudah digoyahkan godaan trio: harta, tahta, dan lawan jenis.

Tidak mengherankan jika di tengah masyarakat sering dijumpai pemuda yang malas mencari jalan dan membangkitkan harapan hidupnya. Terciptalah para pemuda pengharap yang bisanya berpikir kebutuhan hidupnya dalam sehari. Namun jika sedang tak beruntung, “perut kelaparan” dapat membuat hati nurani sulit bekerja. Terciptalah kerentanan para pemuda terhadap godaan material, demi memenuhi keinginan hidup sesuai tren moda kekinian. Tidak jarang, pemuda akhirnya nekat melakukan tindakan kriminal seperti mencuri ataupun menjual barang-barang terlarang. 

Pada kehidupan mahasiswa, hidup tanpa visi dan pendirian juga masih nampak. Mahasiswa menghabiskan waktu hidup di bangku kuliah tanpa memahami tujuan hidupnya sebagai mahasiswa, serta bagaimana ia setelah sarjana. Sebagian mahasiswa masih bersikap masa bodoh terhadap tanggung jawab sosialnya demi kepentingan akademik. 

Di sisi lain, ada juga sebagian mahasiswa yang hanya punya tujuan untuk kepentingan dirinya sendiri, namun tak punya visi kebangsaan ataupun kemanusiaan. Akhirnya, lahirlah sarjana yang hanya memikirkan bagaimana segera mendapat pekerjaan yang dibalas dengan gaji memuaskan setiap bulannya. Langkalah sarjana yang punya tekad berkontribusi bagi kehidupan orang lain. Misalnya tampil sebagai pemimpin amanah ataukah berpikir kreatif untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Paling mirisnya, label aktivis mahasiswa kadang-kadang menjadi rebutan untuk dijadikan sebagai modal besar memperoleh jabatan yang menggiurkan selepas kuliah. Jargon “perjuangan demi kepentingan rakyat” hanyalah kunci para mahasiswa berwatak pemburu kekuasaan, yang tak punya pendirian (baca: idealisme abadi) untuk mendapat pengakuan diri dan mengakses dunia kekuasaan nantinya. Akhirnya, entah tersisa berapa mahasiswa yang berjuang dengan niat demi kepentingan rakyat, sekarang dan akan datang. Perjuangan mereka sementara dan demi kepentingan teselubung.

Lahirnya pemuda tanpa visi dan pendirian tak lepas dari ketiadaan contoh dari para mahasiswa pendahulu yang telah menyandang status sebagai birokrat, baik di pemerintahan maupun di institusi pendidikan tinggi. Diakui atau tidak, sikap tak beradab para pemimpin masih sering dipertontonkan dalam bentuk upaya saling menjatuhkan demi uang dan kekuasaan. Secara terkhusus, dosen saat ini kurang memporsikan pendidikan karakter kebangsaaan kepada para mahasiswa. Mirisnya, seperti yang Penulis sendiri alami sejak di bangku kuliah, dosen seringkali merangsang jiwa egois dan pragmatis para mahasiswa. Misalnya saja menutut untuk giat belajar, cepat sarjana, lalu bekerja. Namun motivasinya adalah untuk mendapatkan uang dengan gelar sarjana itu, lalu menumpuk kekayaan dan barang-barang mewah. 

Kunci untuk masalah pemuda yang satu ini adalah pendidikan dan keteladanan. Sudah saatnya pemuda dididik untuk mandiri demi memandirikan orang lain. Sudah saatnya para pemimpin menjaga idealismenya ---seperti semasih sebagai aktivis mahasiswa--- dan mempertontonkan keteladanan kepada para pemuda. Namun, jika para birokrat masih juga mempertontonkan laku tak terdidik dan tak pantas dicontoh, bentuk dan peliharalah sendiri watak kita, sebab percuma berharap pada mereka.